"Cara Bersikap Optimistis saat Terjadi Bencana".
Sebagian dari kita mungkin
beranggapan bahwa bencana merupakan bentuk hukuman atau siksaan dari Allah SWT.
Sebagian lainnya menganggap bencana adalah bentuk ujian dan kasih sayang Allah
SWT. Berdampak besar atau kecil, tidak ada seorang pun yang mengetahui dan
dapat memilih untuk menghindari terjadinya bencana. Semuanya adalah ketetapan
Allah SWT. Tentu apapun jenis bencananya pasti menimbulkan duka bagi kita,
mulai dari kehilangan harta hingga jiwa. Namun, sebagai umat muslim kita harus
selalu berusaha menumbuhkan sikap positif.
Hal ini adalah satu-satunya
pilihan bagi kita untuk dapat bersikap bijaksana dan bermuhasabah diri kepada
Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS Al-Hadid ayat 22-23,
artinya: “Setiap bencana
yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis
dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian
itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput
dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang luput dari kamu,
dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan
Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Kaitan agama dan bencana
juga telah menarik perhatian dari segi akademis, dalam hal ini, Koenig pada
jurnal kajian makna bencana menurut Al-Quran menyebutkan, agama sangat berperan
besar dalam
proses mitigasi bencana.
Salah satu alasan yang ditemukan dalam penelitiannya adalah karena, sistem
keyakinan dalam agama mampu membuat seseorang siap menghadapi kejadian-kejadian
buruk dalam hidup. Juga, seperti dalam Islam, Allah SWT telah memberikan contoh
sikap dalam menghadapi bencana.
Kisah Nabi Nuh salah
satunya. Allah SWT telah memilih Nabi Nuh untuk mengajak kaumnya beriman kepada
Allah SWT. Dengan perintah-Nya, Nabi Nuh kemudian membangun sebuah bahtera agar
Nabi Nuh dan kaumnya yang taat selamat dari banjir besar yang akan datang.
Namun, sebagian justru menolak ajakan Nabi Nuh dan menentang dakwahnya. Sampai
datang waktunya tiba, banjir besar terjadi dan bahtera tersebut mengapung
diatas banjir besar yang menghancurkan kaum yang tidak taat. Kisah ini
mengandung pelajaran yang dapat kita ambil ketika menghadapi bencana. Diantara
sikap yang paling utama dalam menghadapi ketetapan-Nya ialah patuh,
berprasangka baik dan bertaubat kepada Allah SWT. Di samping itu, dengan
menumbuhkan sikap opstimisme akan selalu ada berbagai hikmah yang dapat kita
jadikan pedoman dalam menghadapi bencana;
1. Bencana terjadi karena Allah Mencintai
Umat-Nya. “Setiap kali Allah mencintai sekelompok orang, Allah pasti memberi
cobaan pada mereka” (HR. At-Tirmidzi)
2. Bencana terjadi karena
Allah ingin mengangkat derajat umat-Nya “Jika agamanya kuat, maka akan
ditambahkan musibahnya,” (HR. At-Tirmidzi) 3. Bencana terjadi agar Umat-Nya
tidak takabur dan tinggi hati. “Orang yang tidak beriman senantiasa ditimpa
bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat
tempat kediaman mereka, sehingga janji Allah itu terbukti. Allah tidak menyalahi
janji.” ( QS. ar-Ra’d : 31)
4. Bencana terjadi agar Umat-Nya lebih
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam
hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan
mereka (yang telah ada). Kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi. Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.( QS.al-Fath : 4).
5. Bencana terjadi agar
Umat-Nya mengetahui bahwa Allah SWT Maha Kuat. “Tidak ada sesuatu musibah pun
yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah” ( QS At-Tagabun :11) Bencana
terjadi agar Umat-Nya mengetahui posisinya di sisi Allah “Allah sekali-kali
tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang
ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).
Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib” (
QS Ali Imran : 179).
6. Bencana terjadi agar
Umat-Nya merindukan surga Allah SWT. “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan
masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian,
dan belum nyata orang-orang yang sabar” ( QS. Ali Imran : 142). Bersikap
optimistis dalam keadaan terpuruk memang tidak mudah. Namun, salah satu bukti
keimanan kita kepada Allah SWT adalah tetap menjaga prasangka baik sekali pun
saat terjadi bencana
Semoga bermanfaat, menjelang sore di Universitas Persada Indonesia Y.A.I